Advertisement


Advertisement

Follow us on




   Diseminasi hasil riset SSGI akan dilaksanakan pada tanggal 21-23 Desember 2020 di Hotel El Royale Bandung

Berharap dari sebuah kurva, Indonesia Segera Hadapi “New Normal”, Siapkah?

Simpan : PDF
Tggl Post : 22 Mei 2020
Telah dibaca : 1619

Oleh : Revi Rosavika Kinansi


Berdasarkan data update Covid-19 sampai dengan 21 Mei 2020, Indonesia mengalami penambahan 639 kasus menjadi total lebih dari 20.000 kasus. Penambahan kasus positif Covid-19  ini juga diikuti penambahan kasus kematian menjadi 1.278 kematian dan sudah ada 4,838 pasien yang dinyatakan sembuh. Dengan kondisi seperti ini, selepas Hari Raya Idul Fitri nanti pemerintah tengah menyiapkan protokol untuk kehidupan "new normal" alias normal baru. Masyarakat diminta untuk kembali bekerja dengan "cara berpikir yang baru". Ini berarti kembali bekerja sambil menerapkan protokol kesehatan."Selalu membiasakan jaga kebersihan diri, mencuci tangan dengan sabun, mengenakan masker, menghindari kerumunan, tidak keluar rumah kecuali perlu," Himbau juru bicara untuk penanganan virus corona di Indonesia, Achmad Yurianto.
Kurva perkembangan Covid-19 Indonesia sendiri masih belum ada pengurangan secara signifikan di setiap waktu. Gubernur DKI Jakarta telah memutuskan untuk memperpanjang PSBB hingga 4 Juni 2020 dengan target angka reproduksi R di bawah 1 yang bermakna satu orang positif berpotensi tidak akan menularkan pada orang lainnya.

Harapan untuk memulai hidup dengan normal baru itulah, menurut Yuri, yang mendasari pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan pelonggaran seperti pengecualian perjalanan antar wilayah bagi sejumlah kelompok masyarakat dan mengizinkan warga di bawah usia 45 tahun untuk kembali bekerja. Namun para pengkritik menuding pemerintah tidak tegas dalam menerapkan pembatasan sehingga menyebabkan penumpukan penumpang di bandara, dan membuat beberapa tenaga kesehatan mengungkapkan kekesalan mereka di media sosial. Berdasarkan data WHO, hingga 21 Mei 2020, sejumlah negara ada yang baru memulai mendekati puncak pandemi seperti di Indonesia, tetapi ada pula beberapa negara yang disebut-sebut telah melalui fase puncak pandemi.  Negara-negara yang telah melalui puncak wabah ini sebelumnya menerapkan upaya keras untuk menahan persebaran virus, seperti lockdown dan melakukan uji Covid-19 secara masif.

1.    Italia

Italia sempat menjadi salah satu pusat penyebaran virus corona paling mengerikan di luar China. Sempat lengah di awal, ketika kasus infeksi meluas negara ini langsung memberlakukan penguncian nasional selama kurang lebih 2 bulan yang memaksa semua warganya untuk tetap tinggal di rumah. Pekan ini, Italia bahkan telah mengendurkan aturan lockdown, dan mengizinkan jutaan masyarakatnya untuk kembali bekerja. Angka laporan kasus infeksi baru juga terus menunjukkan penurunan dari hari ke hari. Angka-angka ini menjadi yang terendah sejak negara ini pertama kali dihantam wabah pada Maret lalu. Ini merupakan indikator kunci sebuah negara dikatakan telah melalui puncak persebaran virus corona.

2.    Spanyol


Kasus Covid-19 di Negeri Matador ini bahkan sempat menduduki posisi tertinggi kedua secara global, di bawah Amerika Serikat. Ini artinya, kasus di sana menjadi yang tertinggi di Benua Eropa. Namun saat ini perlahan negara itu telah melewati titik puncaknya, angka kasus baru semakin hari secara konsisten semakin menurun. Kebijakan penguncian yang diberlakukan pemerintah pun mulai dilonggarkan.

3.    Korea Selatan


Selanjutnya adalah Korea Selatan yang sempat menjadi salah satu hotspot penyebaran virus corona di Asia di luar China. Negara asal K-Pop ini memang tidak memberlakukan penguncian penuh untuk menangani persebaran di wilayahnya, namun mereka melacak persebaran virus menggunakan teknologi komunikasi dan memasifkan pengujian kepada warganya. Hal ini ternyata efektif menekan angka pertumbuhan kasus baru infeksi corona di sana. Beberapa minggu terakhir, laporan kasus baru pun dilaporkan benar-benar turun dari waktu-waktu sebelumnya.

4.    Amerika Serikat


Amerika Serikat, sebagai negara dengan catatan jumlah kasus infeksi virus corona tertinggi di dunia, pertumbuhan kasus baru di sana memang sudah terlihat melambat. Namun, progresnya belum terlihat konsisten, sekali waktu kasus baru masih ditemukan meningkat. Hal itu menandakan Negari Paman Sam itu belum disarankan untuk mengambil langkah pengurangan upaya penahanan persebaran virus.

Jika kita amati perkembangan Covid-19 melalui kurva di atas, Indonesia memiliki kurva yang paling berbeda diantara negara-negara tersebut. Data hasil PSBB dan kebijakan pandemi Covid-19 menyebutkan bahwa PSBB di Indonesia paling tidak sukses atau bahkan buruk dibanding dengan tingkat kesuksesan negara-negara tetangga di ASEAN," kata pendiri Institute for Development of Economics and Finance (Institut Pengembangan Ekonomi dan Keuangan) atau INDEF, Didik J Rachbini, dalam keterangan pers tertulisnya, Rabu (20/5/2020). Didik mengutip data dari Endcoronavirus (ECV) yang merupakan koalisi relawan internasional, mengaku disokong 4.000 relawan, terdiri dari ilmuwan, organisator masyarakat, warga yang peduli, pebisnis, dan individu. ECV dimulai sejak 29 Februari 2020 pada organisasi induk New England Complex Systems Institute (NECSI) di Cambridge, Amerika Serikat. Dalam data Endcoronavirus, kurva Covid-19 dari negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN) bisa dibandingkan. Didik membandingkan kurva Covid-19 di Indonesia dengan kurva Covid-19 Singapura, Kamboja, Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Hasilnya, hanya Indonesia saja di antara negara-negara itu yang kurvanya nampak menanjak tanpa penurunan signifikan.

"Dengan melihat fakta yang ada dan kurva yang masih terus meningkat, maka atas dasar apa wacana dan rencana pelonggaran akan dilakukan? Baru wacana saja sudah semakin tidak tertib dan PSBB dilanggar secara massal di berbagai kota di Indonesia tanpa bisa diatur secara tertib oleh pemerintah. Keadaan ini terjadi karena pemerintah menjadi masalah kedua setelah masalah COVID-19 itu sendiri. Pemerintah tidak menjadi bagian dari solusi, tetapi masuk ke dalam menjadi bagian dari masalah," tutur Didik. Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan, pemerintah mewaspadai ancaman penularan virus corona akibat arus balik setelah Idul Fitri. Koordinasi juga dilakukan dengan sejumlah kementerian/lembaga, dan TNI-Polri terkait langkah-langkah mengendalikan arus balik pemudik. Pemerintah RI sudah menyampaikan beberapa regulasi mengenai covid-19 sepanjang pandemi berlangsung di Indonesia. Banyak sekali yang harus dipersiapkan oleh Indonesia jika memang benar akan menghadapi ‘’’a new normal life” jika kurva perkembangan kasus semakin memuncak dan tidak ada tanda melandai. Bersiap untuk sektor ekonomi, kesehatan, pendidikan dan banyak lagi sektor utama yang terdampak oleh Covid-19 dengan kebijakan yang baru. Belajar dari negara-negara maju di atas, sudah sepatutnya kita patuh dengan segala peraturan pemerintah untuk menekan laju pertambahan kasus Covid-19 di Indonesia. Dengan dukungan penuh dari masyarakat, pandemi ini dapat diatasi dan kurva kasus dapat segera melandai sehingga seluruh sektor kehidupan kembali normal.

Visi Kami
LOKASI KAMI
HUBUNGI KAMI :
  • No Telp : (0298) 327096 ; 312107
  • Email : bbppvrp.litbang@kemkes.go.id Email 2 : b2p2vrp.salatiga@gmail.com
  • Alamat : Salatiga, Jawa Tengah