Advertisement


Advertisement

Follow us on




   Diseminasi hasil riset SSGI akan dilaksanakan pada tanggal 21-23 Desember 2020 di Hotel El Royale Bandung

Balitbangkes Resmi Rilis Terapi Plasma Konvalesen

Simpan : PDF
Tggl Post : 11 September 2020
Telah dibaca : 410

(Salatiga-11/9/2020) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) melalui Pusat Litbang Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan telah memulai penelitian Uji Klinik Terapi Plasma Konvalesen terhadap pasien COVID-19. Dalam kanal Youtube Balitbangkes TV Selasa (8/9), uji klinik ini secara resmi dirilis pada acara “Kick-off Meeting Uji Klinik Pemberian Plasma Konvalesen sebagai Terapi Tambahan COVID-19''. Uji klinik dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/346/2020 tentang Tim Penelitian Uji Klinik Pemberian Plasma Konvalesen sebagai Terapi Tambahan COVID-19.

Pengujian bekerja sama dengan Lembaga Eijkman, Kemenristek/BRIN, Palang Merah Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan. Uji klinik juga menggandeng empat rumah sakit, yaitu RSUP Fatmawati Jakarta, RS Hasan Sadikin Bandung, RS Dr. Ramelan Surabaya, dan RSUD Sidoarjo Jawa Timur dan akan segera diikuti oleh 20 rumah sakit lainnya. Plt Kepala Balitbangkes Slamet menyatakan membuka kesempatan kepada RS yang berminat terlibat untuk menghubungi Balitbangkes.

Ditargetkan uji klinik pemberian plasma konvalesen diselesaikan dalam tiga bulan ke depan dan melibatkan 364 pasien sebagai partisipan. Pelaksanaan uji tetap memprioritaskan keselamatan pasien sebagai subjek penelitian. Pengujian juga mematuhi protokol penelitian serta prinsip cara uji klinis yang baik (good clinical practice).

Penderita COVID-19 yang bersedia berpartisipasi atau menjadi subjek uji klinis ini harus memenuhi syarat di antaranya, berusia minimal 18 tahun, dalam perawatan dengan derajat berat atau derajat sedang mengarah ke berat, bersedia dirawat minimal selama 14 hari, dan mengikuti prosedur penelitian.

Sebelum memulai uji klinik, subjek harus menandatangani formulir persetujuan atas penjelasan (informed consent form). Sejumlah 200 ml plasma diberikan secara apheresis sebanyak dua kali dengan selang waktu tiga hari sepanjang pengujian.

Sebelumnya, terapi plasma konvalsesen pernah digunakan untuk pengobatan flu babi, Ebola, SARS, dan MERS. Hingga kini, terapi plasma hanya boleh dimanfaatkan untuk kondisi kedaruratan dan dalam penelitian. Manfaat terapi ini masih kontroversial karena masih belum cukup bukti yang menunjukkan efektivitasnya. Uji klinik acak dengan grup pembanding (randomized controlled trial) adalah bagian penting untuk menjawab kontroversi ini.

Peneliti Senior Lembaga Biologi Molekuler Eijkman David H. Muldjono menyatakan, pemberian plasma konvalesen sebagai terapi tambahan COVID-19 hanya diberikan untuk pasien derajat berat dan pasien derajat sedang yang mengarah kegawatan (pneumonia dengan hipoksia). Terapi ini juga bukan bagian dari pencegahan melainkan pengobatan pasien, karena sifatnya sebagai terapi, belum ada protokolnya, dan belum diuji coba di seluruh dunia.

Selama uji klinik akan dilakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pemeriksaan laboratorium dan radiologi, yaitu rontgen paru atau CT Scan. Selain itu juga dilakukan pemantauan terhadap perubahan kadar virus, perubahan kadar antibodi netralisasi, dan perubahan skala perawatan.

sumber : http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/

Visi Kami
LOKASI KAMI
HUBUNGI KAMI :
  • No Telp : (0298) 327096 ; 312107
  • Email : bbppvrp.litbang@kemkes.go.id Email 2 : b2p2vrp.salatiga@gmail.com
  • Alamat : Salatiga, Jawa Tengah